-

Hikmah Maulid

TERANGI KEHIDUPAN ANDA DENGAN CAHAYA RASULULLAH

Dengan Kaidah Al-Quran dan Hadits

-

Salam



Intermezzo:


MUQADDIMAH


الحمدُ لِلَّهِ، الحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيمِ الخَبِيرِ المُتَعَالِي،

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا تُحْجِبُهُ ظُلُمَاتُ اللَّيَالِي،

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ جِبَالَ العَوَالِي،

سُبْحَانَهُ مِنْ إِلَهٍ عَظِيمٍ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ وَلَا يُبَالِي،

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَبِهَا نَحْيَا، وَبِهَا نَمُوتُ، وَبِهَا نَلْقَى اللَّهَ وَبِهَا نُوَالِي.





وَأَشْهَدُ أَنَّا عَظِيمَنَا وَقُدْوَتَنَا وَمَوْلَانَا، قُرَّةَ عَيْنِي مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ، عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ وَحَبِيبُهُ،




أَرْسَلَهُ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا،

وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا، فَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، فَكَشَفَ اللهُ بِهِ الغُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِينُ،




فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُولَ اللهِ.





أَمَّا بَعْدُ...






Yang saya muliakan para alim ulama, tokoh masyarakat, pemerintah yang hadir.



Yang saya muliakan para Bapak dan Ibu sekalian



Yang saya cintai dan banggakan seluruh anak muda, adik-adik yang hadir untuk menghadiri acara hikmah maulid Rasulullah saw.
-

Untuk bisa melihat jalan dengan baik, kita butuh cahaya.






Saya ingin memberikan skenarionya



Saya meminta Bapak Ibu berdiri di depan terowongan yang gelap gulita, tidak ada cahaya sama sekali. Mata Bapak dan Ibu ditutup dengan kain, sehingga sempurna berada dalam kegelapan.






Lalu sebelum berjalan masuk ke dalam terowongan, saya letakkan banyak rintangan dan ujian: ada pecahan kaca di sini, ada paku dan duri di sana, ada lubang dalam yang menganga di depan, ada ular piton yang siap melilit dan menelan, ada kalajengking yang berbisa.






Dan dalam keadaan gelap gulita itu, saya katakan kepada Bapak Ibu: “Silakan berjalan ke dalam terowongan sampai pintu keluar.”






Bapak Ibu pun mulai melangkah, dan tidak lama berselang, terdengar teriakan…





Teriakan saat kaki terluka oleh pecahan kaca,

Teriakan ketika terperosok ke dalam lubang,

Jeritan ketika dililit ular piton, teriakan saat tersengat bisa kalajengking.






Kenapa semua itu terjadi? Karena Bapak Ibu berjalan dalam gelap, buta tanpa cahaya, hanya meraba-raba jalan, tidak ada cahaya yang membimbing Bapak Ibu menghindari atau menyikapi setiap rintangan yang ada.






Begitulah manusia datang ke dunia. Allah berfirman:





لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا



“Kalian tidak mengetahui apa-apa ketika dilahirkan.” (QS. An-Nahl: 78)






Manusia lahir ke bumi. Kemudian mereka menapaki kehidupan dan jalan balik ke kampung yang sebenarnya, kampung akhirat.







Lalu ia mulai menapaki jalan pulang ke kampung akhirat, dengan buta tanpa petunjuk Allah, maka dengan sangat cepat dia akan berteriak dalam derita, disini dihantam dengan ujian berat, disana terluka dengan cobaan yang tak kunjung selesai, disini memar bengkak dengan musibah yang silih berganti.






Ada begitu banyak masalah dalam kehidupan kita dimana kita butuh cahaya petunjuk.





وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ


“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)







زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ






Manusia di dunia akan diuji dengan pasangannya, anak-anaknya, harta, uangnya, perhiasannya, barang-barangnya, kendaraannya, binatang peliharaannya, sawah ladangnya dan seluruh ujian dunia lainnya.






  • Ketika merasa jomblo adalah masalah, ketika diberi pasangan masalah nya makin menjadi-jadi.

  • Belum punya anak merasa kurang, ketika di beri anak masalah tak kunjung habis.

  • Kita kira masalah kita adalah kemiskinan, lalu kita kumpulkan harta. Tapi setelah kaya, tetap saja banyak yang gelisah.

  • Kita kira masalah tidak punya kendaraan, setelah ada kendaraan na lewati semua masjid.






Jika kita melihat keadaan dunia saat ini yang makin carut marut, politik yang makin tidak karuan, pengaruh teknologi yang membuat dunia tidak punya batasan lagi. Maka manusia butuh cahaya, manusia butuh petunjuk.





Maka dengan segenap rahmatNya, Allah berfirman:



لَقَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ


“Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah.” (QS. Al-Ma’idah: 15)






Cahaya itu hadir dalam pribadi Rasulullah ﷺ, dalam akhlak dan keteladanan beliau.






لَقَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ



“Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah yakni Rasulullah dan Kitab yang terang, kitab yang jelas.” (QS. Al-Ma’idah: 15)

-

Namun Allah Rabbul 'Izzah adalah yang paling mengetahui psikologi manusia, sekadar memberikan sebuah kitab tidak akan cukup.







Allah mengetahui bahwa manusia hanya bisa menjadi sesuatu yang ia lihat. Manusia hanya bisa meniru apa yang kita lihat.





Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang Nabi, Muhammad ﷺ. Beliau adalah perwujudan nyata dari Al-Qur’an yang hidup di tengah manusia, agar kita bisa melihat, mencontoh, dan meneladani beliau.”







Sa’ad bin Hisyam bin Amir ketika datang ke Madinah dan mengunjungi Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk menanyakan beberapa masalah, salah satunya tentang akhlaq Rasulullah, S.A.W.






فَقُلتُ : يَا أُمَّ المُؤمِنِينَ ! أَنبئِينِي عَن خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ؟




Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!”. Bagaimana beliau hidup, bagaimana beliau berjalan, bagaimana beliau bersikap?






قَالَت : فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ






“Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.”


Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati...” (HR. Muslim, no. 746).






Jika saya bisa menerjemahkan perkataan 'Aisyah, Rasulullah adalah "Al-Quran Berjalan". Beliau adalah contoh penerapan Al-Quran, Beliau melakukan apa-apa yang Al-Quran perintahkan, dan meninggalkan apa yang dilarang Al-Quran. Beliau adalah contoh sempurna bagaimana Al-Quran menjadi petunjuk dalam seluruh sisi kehidupan.







Saya ingin kita semua menggaris bawahi bahwa informasi ini adalah keterangan langsung dari istri beliua "Aisyah RA.






Saya bisa membayangkan kalo Ibu-ibu diberikan perlindungan khusus, tidak terkena UU ITE, bisa berbicara bebas tanpa terancam hukum dan penjara kemudian ditanyakan "Bisa ceritakan tentang suamita?" Bisa-bisa habis reputasita semua Pak.







Kalo hanya sekedar melihat sepintas, mudah sekali menilai orang, kalo hanya melihat jabatan dan gelar mudah kita terkesan dengan seseorang, namun jika kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama, bisa saja karakter aslinya 180 derajat.







Seperti ungkapan Imam As-Syafi'i yang terkenal


لَوِ اطَّلَعْتُم على ما عِندي من العُيُوبِ، ما تَبِعَنِي أَحَدٌ


“Seandainya kalian mengetahui aib-aibku yang tersembunyi, niscaya tidak ada seorang pun yang mau berjalan di belakangku.”







Tapi kalo istri, kita tidak bisa sembunyikan apapun Pak, "Hunna Libasullakum, Wa Antum Libasullahunna" kata Al-Quran, mereka adalah pakaianmu dan kamu adalah pakaian mereka. Na liat semua isi dalam dan luarta. Na ingat semua janji-janjita walaupun sudah belasan bahkan puluhan tahun. Semua jenis ngorokta tidak ada yang tersembunyi.







Namun Aisyah, setelah belasan tahun hidup bersama Rasulullah, tidak bisa menemukan penilaian yang cacat kecuali dengan satu kesimpulan. Rasulullah adalah Al-Quran yang berjalan. Itulah keajaiban karakter mulia Rasulullah.







Ini bukan cerita tunggal tentang kemuliaan karakter Rasulullah.









Sebelum 'Aisyah, Rasulullah hidup dengan Ibunda kita Khadijah RA, dan beliau hidup lebih lama bersama, mulai dari sebelum jadi Nabi hingga Muhammad menjadi seorang Rasul.







Kita semua sudah awam dengan cerita penerimaan wahyu pertama di Gua Hira ketika setelahnya Rasulullah bergegas turun dari gunung dari keadaan gemetar, ketakutan, menggigil kedinginan dan segera menemui Khadijah. Zammiluni...Zammiluni, Datssiruni... Datssiruni (Selimuti saya, bungkus saya), maka segera Khadijah menyelimuti dan membungkus beliau dengan selimut).








Setelah keadaan beliau reda, Khadijah bertanya apa yang terjadi, Rasulullah menyampaikan bahwa sepertinya dia sedang terkena sihir, ada yang merasukinya.








“Lihatlah bagaimana Sayyidah Khadijah رضي الله عنها menenangkan Rasulullah ﷺ setelah beliau menerima wahyu pertama. Dengan penuh keyakinan ia berkata: كَلَّا، أَبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا...‘Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau menyambung silaturahmi, jujur dalam ucapan, menanggung beban orang lain, memuliakan tamu, dan menolong dalam setiap urusan kebenaran.’ Sejak awal sebelum kenabian beliau, cahaya Rasulullah ﷺ sudah tampak jelas melalui akhlaknya, dan semuanya terwakili dalam kesaksian dan pujian Khadijah dalam menenangkan Rasulullah.







Kalo kita ini mungkin, dapatki ceramah dari istrita... Cengeng mettoko jekna, tek lek memangki je'na. Sembarang pikiranta.

-

Mungkin kita mengatakan, ah... pastimi karena istrinya sendiri yang sampaikan, pasti yang baik-baikji na sebut.







Cerita tentang Zaid Ibnu Haritsah, sebuah cerita yang sangat menyentuh.







Zaid Ibnu Haritsah berasal dari sebuah kampung yang jauh dari Makkah. Suku Arab pedalaman. Qahthani Arab.







Suatu hari Zaid Ibnu Haritsah yang masih kecil, berusia sekitar 8 tahun, mengunjungi pamannya di kampung yang lain, namun naas dalam kunjungan tersebut bertepatan dengan penyerangan suku lain, kemudian Zaid tertangkap dan akhirnya dijual ke pasar budak. Maklum di masa itu perbudakan masih berlaku di semua suku, yang biasanya dijual ke kerajaan Roma atau Persia.







Secara kebetulan, Zaid kecil ini dibeli oleh keponakan dari Khadijah kemudian keponakan Khadijah menghadiahkannya ke tantenya Khadijah sebagai hadiah perkawinannya dengan Rasulullah. Kemudian Khadijah menghadiahkannya kepada suaminya Muhammad untuk membantunya mengurusi keperluan sehari-hari.







Makkah saat itu adalah tempat yang banyak dikunjungi dari luar, baik untuk haji, bisnis atau pertemuan-pertemuan suku.







Setiap kali ada acara-acara besar, Zaid selalu mendatanginya berharap ketemu orang dari sukunya, dan akhirnya satu saat dia melihat orang yang berpakaian sama dari sukunya. Zaid kemudian mendekati dan mengenali 2 orang ini. Budaya yang sangat kental di Arab adalah ketika seseorang berbicara dan menyampaikan pesan, biasanya disampaikan dalam bentuk pantun atau puisi.








Kemudian Zaid menyampaikan puisi yang ai minta untuk disampaikan kepada keluarganya.








Kedua orang dari suku Zaid kembali ke kampungnya dan menyampaikan, kami bertemu dengan anak muda dan dia menyampaikan pesan ini.

Janganmaki kasih capek untata untuk mencari saya Saya tinggal di samping rumah Allah Dengan keluarga yang sangat terhormat.





Begitu mendengar pesan ini, orangtua dan paman Zaid sangat gembira dan mereka yakin pemuda ini adalah Zaid, outra mereka yang hilang. Kemudian keluarganya mengumpulkan harta dan uang yang yang sangat banyak, kemudian Ayah dan paman Zaid mengadakan misi perjalanan membawa pulaang anak mereka.








Setibanya di Mekkah,, mereka bertanya kepada khalayak, apakah mereka mengenal seseorang yang sangat terhormat dan memiliki budak kecil bernama Zaid?






Orang-orang segera menunjuk rumah Nabi, "Oh yang Anda maksud adalah Abul Qashim (nama lain Rasulullah) maka ayah dan paman Zaid segera mendatangi rumah Muhammad, dan menerangkan maksud kedatangan mereka.






Kurru sumanga', indekkan dikka pole mallalang mabela, pole mangak i anak i, to pura lannyak dikka nasaba' penculikan. Liwa' rannungki dikka nasaba' anak i tudang na paribola to to mala'bih, nakia ke pellaku i ke wa'dingi ki paoling lako kampong, tabe' ta paui kua pira wa'ding laki tebusangi.







Tabe' saya mau menawarkan yang lebih baik. Saya akan menanyai Zaid, jika dia mengenali kalian dan Zaid memutuskan untuk mengikuti kalian, maka kalian tidak perlu membayar sepeserpun. Namun jika Zaid memutuskan dan memilih tinggal bersama saya, maka saya tidak akan membiarkan seseorang yang memilih saya ketimbang Anda berdua.








Maka Zaid pun dipanggil dan Rasulullah menanyainya. Apakah kamu mengenal kedua orang ini?. Ya, beliau adalah ayah saya dan beliau adalah paman saya. Jawab Zaid.








Baik Zaid, orangtuata dan pamanta datang untuk menjemputmu balik ke kampung, jika kamu ingin pulang saya izinkan dan tidak perlu kompensasi pembayaran, namun jika kamu memilih untuk tinggal maka kamu bebas untuk menentukan sikap.







Zaid pun menoleh ke orantua dan pamannya, kemudian menoleh ke Rasulullah, kemudian menoleh kembali ke orangtua dan pamannya, kemudian menoleh kembali ke Rasulullah, kemudian Zaid angkat bicara; "Saya memutuskan untuk tinggal bersamamu, saya dikasih emas sebesar gunungpun saya tidak akan meninggalkanmu" kata Zaid.








Karakter orang Arab yang punya prinsip merasa sangat keberatan. "Zaid, apa kamu waras dengan memilihnya di banding kami orangtuamu. Memilih orang yang tidak punya hubungan keluarga, tidak memiliki garis keturunan kita, kamu sudah mempermalukan kami Zaid". terang Ayah Zaid dengan suara meninggi.







Zaid membalas, "Beliau telah menjadi ayah saya, sekaligu Ibu saya, Pelindung Saya, menjadi teman baik saya". Bantah Zaid.







Ayah Zaid pun ingin mendebat kembali namun segera di sela oleh Rasulullah, "Tabe, saya ingin menawarkan sesuatu yang terbaik" sambil menarik tangan Zaid dan Ayahnya kemudian ke Haram, dan memberikan pengumuman. "Wahai kaum Quraisy, persaksikanlah bahwa per hari ini, saya mengangkat Zaid sebagai anak saya, dia bisa mewarisi saya, dan saya pun mewarisinya". Maka hari itu Zaid di merdekakan seklaigus diangkat derajatnya, menjadi bagian dari keluarga terhormat dari seorang budak. Maka orangtua Zaid dan pamannya pulang dengan kebahagiaan yang elbih dari yang mereka harapkan.







Sekali lagi, kejadian ini menggambarkan bagaimana mulianya karakter Rasulullah.







Dari tiga cerita ini kita bisa mengambil moral cerita, bahwa Kehidupan Zaid bin Haritsah menjadi perjalanan yang epic, menjadi panglima perang yang sangat disegani, menjadi salah satu pemuda yang awal masuk Islam, menjadi anak angkat dan menjadi terhormat di kalangan Quraisy dan para sahabat, menjadi satu-satunya sahabat yang disebut langsung namanya di dalam Al-Quran, semuanya karena kehiupannya bersentuhan dengan kemuliaan akhlaq Rasulullah.








'Aisyah, kita kenal namanya, kita tokohkan dan abadikan namanya, kita mengagumi dan mencontoh karakternya, mengambil hikmah dari 2.210 hadits yang beliau riwayatkan, menjadi perawi hadits ke4 terbesar setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar dan Anas bin Malik, menjadi Ibu dari orang-orang beriman, hanya karena kehidupannya pernah bersentuhan dengan kehiupan dan cahaya karakter mulia dari Rasulullah SAW.








Khadijah binti Khuwailid, menjadi wanita yang sangat dimuliakan hingga hari ini, tercatat dengan tinta emas dalam sejarah awal peran besarnya untuk awal awal dakwah Muhammad, kenabian hingga kerasulan Muhammad SAW. yang suatu saat sedang membawa makanan untuk Rasulullah, Jibril turun langsung menemui Rasulullah, kemudian menyampaikan ke beliau, sampaiikan kepada Khadijah bahwa Allah titip salam untuknya, dan juga dari saya, dan tolong sampaikan bahwa Allah membangunkannya istana di syurga dari permata tunggal. Semua ini karena kehidupan beliau pernah bersentuhan dengan kehidupan Rasulullah dan akhlaq beliau yang begitu tinggi.

-

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ






Jika ingin mencapai prestasi tertinggi di dunia dan sukses di kehidupan akhirah, biarkan cahaya Allah menerangi jalanta melalui cahaya petunjuk yang jelas dari Al-Quran dan dicontohkan sunnah secara terang-benderang oleh Rasulullah.






Jangan mengambil cahaya yang lain.






Jika Anda pedagang, berdaganglah seperti Rasulullah.


Jika Anda kepala rumah tangga, bimbing anak istrita seperti Rasulullah.


Jika Anda seorang guru, ajarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah


Jika Anda adalah istri, terangi cahaya rumahta dengan Al-Quran dan Sunnah.


Jika Anda adalah PNS, Pejabat, Pegawai, terangi pekerjaanta amanah, Shiddiq seperti Rasulullah.






Jadikan Rasulullah sebagai panutan di setiap sisi kehidupanta







Jangan pernah menyekutukan Allah, karena satu-satunya dosa yang tidak diampuni adalah dosa syirik







Pelihara sholatta, jika diterima maka seluruh amal baik lainnya akan diterima, namun jika ditolak maka gugurlah seluruh amal lainnya.







Pelajari sejarah Rasulullah setiap hari, tidak mesti pada saat momen perayaan maulid saja.








Melalui momen maulid ini, kita kembali periksa lampu-lampu penerang kehidupanta. Matikan semua lampu yang menyala tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah, ganti dengan lampu-lampu yang bercahaya sesuai dengan kaidah cahaya Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.








Semoga dengan mengikuti cahaya petunjuk Al-Qur'an yang di contohkan langsung oleh Rasulullah menjadikan kita berjalan menuju akhirat dengan bercahaya dan dikenali oleh Rasulullah saw ketika berjumpa dengan beliau. Sehingga kita masuk dalam barisan yang mendapatkan syafaat beliau.





Amin Yaa Rabbal 'Aalamiin.






سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوبُ إِلَيْكَ.





السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Muqaddimah dan artinya
-