Dulu, mondok adalah salah satu solusi untuk belajar dengan baik, visi mendalami ilmu, akhlak terdidik, guru dijunjung tinggi. Namun sekarang, banyak santri maupun orang tua yang hanya fokus pada selebrasi, bangga ketika anaknya naik panggung berselendang 30 juz, namun sengaja masbuk ketika waktu salat agar tidak diminta untuk jadi imam, karena hafalannya hanya sekedar di atas kertas.
Fenomena ini makin ramai: balapan hafizh Quran. Siapa paling cepat khatam, siapa paling dulu naik panggung, siapa paling sering tampil di baliho. Padahal, di balik sorot lampu panggung itu, kita tak jarang melihat hati yang kerontang, hafalan yang rapuh, dan zikir yang berhenti di bibir, tidak turun ke dada.
Dulu, menjadi hafizh itu perjalanan sunyi. Sekarang, bagi sebagian orang, menjadi hafizh adalah lomba lari. Dulu guru memeluk muridnya yang pecah hafalan, sekarang murid justru takut pada gurunya, takut dicek, takut diminta menjadi imam. Bukan takut karena belum siap, tetapi takut karena dari awal memang hanya mengejar penyelesaian, bukan pendalaman.
Ada yang lebih tragis lagi—orang tua yang mendorong anaknya untuk khatam cepat hanya demi gelar. Bahkan ada yang marah ketika anaknya tidak naik panggung tahun ini. Seolah-olah Quran adalah medali, bukan kalam Allah yang hidup di hati.
Padahal apa gunanya selesai 30 juz kalau ketika subuh terdengar azan, sang hafizh malah menarik selimut lebih rapat? Apa gunanya naik panggung dengan sorban rapi kalau sujudnya masih terburu-buru? Apa gunanya berselendang 30 juz kalau ayat pertama yang dilupakan justru ayat yang memerintahkan ketakwaan?
Kita hidup di zaman ketika hafalan bisa dipamerkan, tapi iman tidak bisa dipertontonkan. Ketika lisan bisa cepat mengulang ayat, tapi hati lambat menghayati maknanya. Ketika orang tua bangga mengantar anak tampil di podium, tapi enggan membangunkan salat malam.
Di sinilah tragedi sekaligus satirnya: ternyata yang sibuk menghafal tidak selalu sibuk memperbaiki diri. Yang paling keras mengejar target setoran terkadang paling lemah dalam menjaga setoran hati.
Maka, ini bukan lagi sekadar kritik, tapi ajakan sadar. Tujuan menjadi hafizh bukanlah memperbanyak hafalan, melainkan menghidupkan Quran dalam perilaku. Quran bukan hanya untuk dikenang di panggung khataman, tetapi untuk menjadi cahaya di lorong-lorong kelam hidup kita.
Jika anak-anak mulai sibuk mengejar panggung, tunjukkan bahwa kemuliaan tidak terletak di foto wisuda, tetapi pada keteguhan iman ketika tidak ada yang melihat.
Jika orang tua mulai silau dengan gelar hafizh, ingatkan bahwa kelak yang pertama kali ditanya bukan "berapa juz hafalanmu?" tetapi "apa yang kamu lakukan dengan ayat-ayat itu?"
Quran bukan piala. Quran bukan lomba lari. Quran bukan panggung untuk membanggakan diri. Quran adalah amanah, yang jika tidak dijaga, justru bisa menjadi petaka.
Mari kita kembali ke ruhul Quran. Mari kita kembalikan mondok sebagai tempat menempa diri, bukan tempat cetak hafizh instan. Mari ajarkan anak-anak bahwa bersujud dengan hati lebih mulia daripada naik panggung dengan sorban.
Karena pada akhirnya, Allah tidak menilai siapa yang paling cepat menghafal, tetapi siapa yang paling lambat melupakan-Nya.
Koneksi internet Anda sedang bermasalah, mohon coba gunakan jaringan lain.Tutup